Minggu, 04 Maret 2012

Hukum Meyakini Negara Islam >> Waskito Ibnu Boeang


Belum lama lalu ada pembicaraan luas tentang hukum merokok. Majlis Tarjih Muhammadiyyah memfatwakan bahwa merokok itu haram. Para petani tembakau protes dengan fatwa ini, sebab dianggap berpotensi menutup mata pencaharian mereka. Selain fatwa merokok, kita juga pernah mendengar banyak fatwa, misalnya tentang aborsi, donor organ tubuh, KB, nikah sirri, mengucapkan “selamat natal”, golput, kepiting, tape, film, sulap, dan lain-lain.

Dalam perkara-perkara itu, kita kerap bertanya, “Apa hukum masalah ini dan itu? Bagaimana boleh atau tidak boleh? Halal atau haram?” Dan sebagainya. Dalam urusan muamalah, ibadah, makanan-minuman, profesi, kesehatan, dll. kita sangat sering menanyakan hukum suatu perkara.

Sebagai seorang Muslim, pernahkah kita terpikir untuk bertanya tentang hukum Negara Islam? Bagaimana hukumnya, wajibkah, sunnahkah, mubahkah, atau haram? Perkara Negara Islam tentu lebih penting dari masalah tape, alat kontrasepsi, kloning, film, dan sejenisnya. Ini adalah masalah mendasar dan sangat fundamental. Masalah Negara Islam adalah urusan besar yang menyangkut banyak perkara. Nah, mengapa kita tidak pernah mempertanyakan perkara tersebut?

Jujur saja, kalau seorang Muslim ditanya, hatta itu seorang anggota majlis ulama, apa hukumnya menegakkan konsep Negara Islam? Banyak yang tak akan mampu menjawab. Bila ada jawaban, paling penuh keragu-raguan. Padahal kata Nabi Saw, “Al halalu baiyinun wal haramu baiyinun,” yang halal itu jelas, yang haram juga jelas. Tetapi dalam urusan hukum Negara Islam, seolah semuanya tampak kabur, rumit, penuh perselisihan.


BERBAGAI PANDANGAN KELIRU


Di tengah masyarakat Indonesia, banyak sekali pendapat-pendapat keliru tentang Negara Islam. Pendapat itu beredar dari yang paling lunak sampai yang paling ekstrim. Di antara pendapat-pendapat tersebut adalah sebagai berikut:

[o] Negara Islam adalah konsep yang melanggar hukum, subversif, ide teroris, sehingga ia harus dimusnahkah, ditumpas, disikat habis sampai ke akar-akarnya. (Pandangan ini dianut oleh Densus 88 dan makhluk sejenis. Mereka bersikap seperti musyrikin Makkah yang memerangi Nabi Muhammad Saw, dalam rangka menghancurkan Islam sampai ke akar-akarnya).

[o] Negara Islam adalah ide yang serupa dengan komunisme, maka ia harus dilarang secara mutlak, karena mengancam NKRI. Negara Islam sama seperti ancaman PKI. (Pandangan ini dianut oleh umumnya perwira dan anggota TNI, baik yang masih aktif atau sudah pensiun. Mereka seperti tidak pernah membaca sejarah, bahwa sebelum ada NKRI, di Indonesia ini sudah berdiri banyak Kerajaan Islam. Bahkan yang memperjuangkan Kemerdekaan RI banyak dari kalangan laskar santri, seperti Hizbullah dan Sabilillah. Bahkan Jendral Soedirman adalah seorang perwira santri. Hanya karena otak TNI sudah disandera pemikiran anti Islam yang dibawa oleh Nasution, Urip Sumoharjo, Gatot Subroto, Soeharto, Ali Moertopo, LB Moerdani, dkk. maka mereka selalu sinis kepada ide Negara Islam. Terhadap negara Hindu seperti Majapahit atau negara Budha seperti Sriwijaya, mereka tidak menolak. Tetapi terhadap Negara Islam, sangat anti. Aneh sekali).

[o] Negara Islam akan menghancurkan NKRI, sebab Indonesia Timur akan menuntut merdeka dari Indonesia. (Pandangan ini dianut oleh kebanyakan orang Indonesia. Pelopornya ialah Soekarno dan Hatta. Dalam kenyataan, meskipun dulu ada gerakan DI/TII, Indonesia tidak pernah bubar. Lagi pula, meskipun saat ini tidak ada Negara Islam, tetap saja muncul gerakan separatisme di Aceh, Maluku, Papua, dan mungkin daerah-daerah lain. Separatisme itu muncul kebanyakan karena daerah-daerah merasakan kebijakan politik Jakarta yang tidak-adil, khususnya dalam soal ekonomi. Dalam kondisi seperti saat ini banyak orang percaya, bahwa NKRI akan bubar juga, meskipun tanpa faktor Negara Islam. Justru seharusnya diajukan pertanyaan terbalik: Bagaimana NKRI bisa bertahan tanpa peranan Sistem Islam? Toh, sudah terbukti selama 65 tahun sistem sekuler gagal?).

[o] Negara Islam tidak dikenal dalam ajaran Islam, sebab dalam Kitabullah dan Sunnah, tidak ada istilah ‘negara’. (Pandangan ini dianut oleh Gus Dur, orang-orang Liberal, dll. Jadi, kalau dalam Al Qur’an dan Sunnah tidak ada istilah madrasah (sekolah), majlis taklim, qomus (kamus), majalah, jaamiah (universitas), nahwu-shorof (ilmu bahasa Arab), mustholah hadits (studi hadits), dll. Berarti semua itu tidak dibutuhkan oleh Islam? Begitukah?).

[o] Negara Islam tidak relevan dalam kehidupan modern, sebab ia tidak cocok dengan nilai-nilai Barat yang modern, trendy, aktual, membebaskan. Negara Islam hanya cocok di jaman batu, atau jaman “gurun pasir” di masa lalu.

[o] Negara Islam itu masih khilafiyah. Ada yang membolehkan dan ada yang melarang. Kami ikut para ulama saja. Ikuta pa? Ya, menerima konsep negara sekuler. Selama pak kyai dan ustadz-ustadz kami setuju negara sekuler, kami ikut mereka saja. Ini lebih aman dan selamat. (Selamat apa? Maksudnya, selamat sampai kecemplung ke neraka?).

[o] Negara Islam boleh, tapi sekuler juga boleh. Ini hanya soal pilihan saja dalam memilih bentuk sistem politik yang kita sukai. (Andaikan hanya pilihan, buat apa Nabi sampai hijrah dari Makkah yang menganut sistem jahiliyyah?).

[o] Negara Islam lebih sesuai Syariat Islam, tetapi kita tidak boleh melawan penguasa. Mentaati penguasa lebih utama daripada memperjuangkan Negara Islam. Kaum “Ahlus Sunnah” tidak pernah menentang penguasa, meskipun itu penguasa kafir yang menerapkan sistem kufur. Bagi “Ahlus Sunnah” mentaati penguasa adalah KEWAJIBAN TERBESAR dalam agama, melebihi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Bersujud di depan telapak kaki penguasa adalah akidah terbesar kaum “Ahlus Sunnah”. (Tidak ada komentar atas keyakinan seperti ini selain: Na’udzubillah wa na’udzubillah minad dhlalah wa ahliha).

[o] Meyakini Negara Islam adalah pasti, TETAPI (selalu ada tetapi-nya) dalam praktik kenegaraan kita harus pintar bermain politik dan strategi. Kita sama-sama meyakini kebenaran Negara Islam, tetapi kita perlu mengikuti permainan orang sekuler. Hanya itu pilihan kita. Ikuti dulu cara main mereka. Kita kalahkan mereka dengan cara yang mereka buat sendiri, setelah mereka kalah, baru kita dirikan Negara Islam. (Pandangan ini dianut oleh para politisi Muslim dan para aktivis partai Islam/Muslim. Tetapi orang sekuler tidak kalah pintar, mereka membuat banyak syarat yang membuat para aktivis Islam itu tidak berkutik. Akhirnya para aktivis Islam itu ikut berserikat dalam menghalalkan riba, prostitusi, pornografi, minuman keras, perjudian, diskotik, night club, dll. Atas kontribusi mereka dalam ikut menghalalkan perkara-perkara haram, mereka mendapat gaji/insentif besar. Setiap rupiah gaji yang diterima dan dikonsumsi, berasal dari perserikatan dalam menyingkirkan hukum Islam dan menghalalkan perkara-perkara haram. Setelah kenyang dengan gaji semacam itu, mereka mulai sinis kepada siapa saja yang menyuarakan ide Negara Islam).

Semua pandangan-pandangan di atas adalah tidak benar. Bahkan sebagiannya telah menjadi kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengatakan, bahwa sebab-sebab rusaknya hati ada dua, yaitu syubhat dan syahwat. Pandangan beliau ini sangat tepat untuk mengungkapkan keadaan orang-orang yang menolak Negara Islam. Mereka telah dikuasai oleh syubhat dan syahwat, sehingga tersamar dari melihat kebenaran.




GUNAKAN AKAL SEHAT

Untuk menguji kesalahan pandangan-pandangan di atas, sebenarnya sangat mudah. Cukup dengan bekal AKAL SEHAT kita akan bisa mematahkan pandangan anti Negara Islam itu. Coba perhatikan penjelasan-penjelasan di bawah ini:


Menurut Anda, sesuatu amal disebut Islami karena apa? Apakah karena amal itu dilakukan oleh seseorang yang bernama Muhammad atau Abu Bakar? Apakah karena amal itu dilakukan oleh orang Arab? Apakah karena amal itu diberi label “100 % Sesuai Syariat”? Tentu saja, ia disebut Islami karena sesuai dengan petunjuk Kitabullah dan As Sunnah.

Bolehkah seorang Muslim minum minuman keras? Tentu jawabnya, tidak boleh. Mengapa? Sebab minuman keras haram. Haram menurut siapa? Haram menurut Syariat Islam. Kalau minum air mineral? Boleh, sebab air itu halal. Jadi, standar haram atau halal adalah Syariat Islam. Apa saja yang sesuai Syariat adalah boleh, dan yang melanggar adalah dilarang.

Lalu di mata kita, Islam itu agama seperti apa? Apakah Islam hanya mengurus masalah Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji saja? Apakah Islam hanya mengurus masalah nikah, talaq, kerudung, makanan halal, penyembelihan, kurban?
Atau apakah Islam hanya mengurus hak anak yatim, nafkah keluarga, hak waris, hukum saudara sesusuan? Tentu jawaban atas semua pertanyaan ini adalah tidak. Islam mengurus banyak perkara. Islam menjelaskan adab-adab kehidupan secara menyeluruh, sejak adab masuk WC sampai adab memilih pemimpin negara. Yang disebut, “Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya’buduni,” mencakup keseluruhan hidup manusia. Sejak urusan doa sebelum jima’ dengan isteri, sampai siasat perang menghadapi musuh; sejak urusan belajar alif, ba’, ta’, sampai baiat terhadap pemimpin; sejak urusan menyapih bayi sampai diplomasi terhadap negara orang kafir. Cakrawala peradaban Islam luas, seluas cakupan kehidupan manusia itu sendiri.
Jika urusan halal-haramnya minuman dan makanan saja diatur dalam Islam, dan semua masyarakat kaum Muslimin tidak menolak aturan itu, lalu mengapa urusan negara tidak boleh diatur dengan Islam? Apakah Anda akan mengatakan, bahwa urusan makan-minum lebih penting daripada urusan Negara? Apakah urusan makan tape, makan burger, makan kepiting, lebih penting dari urusan negara? Jika Anda menjawab, “Ya!” Berarti Anda berada dalam masalah serius. Dulu, para Shahabat Ra, dalam rangka menyelamatkan masa depan Negara Islam, setelah Nabi wafat, mereka berselisih tajam di Saqifah Bani Sa’idah. Padahal ketika itu mereka belum mengurus jenazah Nabi sedikit pun. Di mata mereka, memastikan keselamatan negara lebih utama dari mengurus jenazah Nabi. Ingat, jenazah Nabi lho. Bukan manusia sembarangan.

Jadi, bagi manusia yang berpikir jujur dan adil, memahami bahwa konsep Negara Islam itu benar, dan ia wajib diyakini kebenarannya, adalah urusan yang sangat mudah. Hanya saja, kalau seseorang sudah terjerumus dalam kekalutan pemikiran yang dipilihnya sendiri, hal-hal demikian terasa sangat rumit dan memayahkan. Padahal kesulitan itu mereka buat sendiri.


DALIL KEBENARAN NEGARA ISLAM

Sebagian orang merasa belum puas atau mantap hatinya, sebelum membaca dalil-dalil Syar’i yang mendukung kebenaran konsep Negara Islam. Disini insya Allah akan kita sebutkan dalil-dalil tersebut. Semoga penjelasan ini semakin memperkuat keyakinan kita, bahwa Negara Islam adalah benar. Bahkan sudah semestinya setiap Muslim meyakini Negara Islam.


Dalil-dalil Syar’i yang menjadi dasar legitimasi kebenaran Negara Islam, antara lain:
1.        Nabi Muhammad Saw pernah ditawari utusan kaum musyrikin Makkah, yaitu Utbah bin Rabi’ah (atau Abul Walid) untuk menjadi pemimpin atau raja di Makkah, asalkan Nabi tidak meneruskan dakwahnya. Atas tawaran itu, Nabi menolak. Sebagian orang berpandangan, bahwa kejadian ini merupakan bukti bahwa Nabi tidak membutuhkan kepemimpinan politik. Nabi hanya seorang dai, bukan pemimpin politik. Itu adalah kesimpulan buruk yang harus segera disingkirkan. Nabi menolak menerima tawaran itu, sebab beliau harus menghentikan dakwah Islam. Kemudian Nabi menjadi pemimpin di atas sistem jahiliyyah di Makkah. Sungguh, Nabi tidak menolak kepemimpinan politik, jika hal itu lurus sesuai ajaran Islam. Terbukti, selama masih di Makkah, belum hijrah ke Madinah, Nabi menerima BAI’AT orang-orang Madinah. Inilah yang dikenal sebagai Bai’at Aqabah I dan II.(Bai’at ini selain dilakukan di Makkah, fungsinya juga untuk membai’at seorang pemimpin). Nabi Saw menolak menjadi raja di Makkah karena harus membangun sistem jahiliyyah, lalu Nabi memilih hijrah ke Madinah, dimana disana beliau bebas mengembangkan tatanan Islam. Demi menegakkan sistem Islam, Nabi Saw memilih hijrah ke Madinah.

2.      Setelah hijrah ke Madinah, Nabi mengganti nama kota itu dari yang semula Yatsrib, diganti menjadi Madinatun Nabawiyyah atau Madinatul Munawwarah. Disingkat, Madinah. Ini menjadi bukti bahwa Nabi Saw benar-benar serius dalam membangun sistem Islam, sampai urusan nama kota pun diubah menjadi bermakna Islami. Andai sistem Islam itu sama saja dengan sistem lain, tentu Nabi tidak perlu mengubah nama kota Yatsrib.

3.      Di Madinah, Nabi membangun peradaban mandiri dengan dasar Kitabullah dan As Sunnah. Nabi tidak mengambil panduan lain, selain Kitabullah dan Sunnah. Padahal ketika itu sudah ada model-model peradaban lain, seperti peradaban Yahudi, Nasrani, Romawi, Persia, Mesir, Arab Badui, dll. Bahkan Nabi mengingatkan ummat agar tidak meniru tatacara perikehidupan orang kafir. Beliau bersabda, “Wa man tasyab-baha bi qaumin, fa huwa minhum,” (siapa yang meniru-niru suatu kaum, maka dia menjadi bagian dari kaum itu). Untuk lebih menegaskan lagi, Ali bin Abi Thalib Ra pernah mengatakan, “Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.”

4.     Dalam Al Qur’an disebutkan, “Dan jika kalian berselisih pendapat dalam suatu perkara, kembalikankan kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhirat.” (An Nisaa’: 59). Sistem negara yang benar adalah yang sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya; sistem yang bathil adalah yang menyalahi firman Allah (Kitabullah) dan sabda Rasul (As Sunnah).

5.      Dalam Al Qur’an disebutkan, “Wahai orang-orang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam ini secara totalitas. Dan janganlah kalian menuruti langkah-langkah syaitan, sebab dia adalah musuh yang nyata bagimu.” (Al Baqarah: 208). Membatasi Islam hanya dalam urusan ibadah, nikah, makanan-minuman, Umrah dan Haji; termasuk bagian dari menuruti langkah-langkah syaitan yang diperingatkan dalam ayat ini.

6.     Nabi Saw pernah bersabda, “Setiap ummatku masuk syurga, selain yang menolak.” Beliau ditanya, “Siapa yang menolak itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa yang mentaatiku, dia masuk syurga. Siapa yang menyalahi ajaranku, dialah yang menolak (masuk syurga).” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah Ra). Negara Islam adalah ajaran Nabi, maka siapa yang menolaknya, maka dia telah menolak masuk syurga.

7.      Nabi Saw juga bersabda, “Dan berpeganglah kalian kepada Sunnah-ku dan Sunnah para Khalifah yang dibimbing (Allah Ta’ala) sesudahku. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian dari urusan-urusan yang diada-adakan (bid’ah), karena setiap bid’ah itu adalah sesat.”  (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi). Hadits ini selain memerintahkan kita mengikuti Nabi dan para Khulafaur Rasyidin, juga memperingatkan kita dari mengadopsi ajaran di luar Islam, seperti sistem negara sekuler, negara jahiliyah, negara westernis, negara nasionalis, dll. sebab semua itu adalah SESAT dan MENYESATKAN. [Hendak kemana lagi orang-orang yang mengaku “Ahlus Sunnah” itu akan bersembunyi? Dengan apa lagi mereka akan mendalili kesesatannya?].

8.      Selama di Makkah, Nabi dan Shahabat mengalami puluhan kali peperangan, baik perang besar atau kecil. Perang yang besar antara lain, perang Badar, Uhud, Ahzab, Khaibar, Hunain, Tabuk, Fathu Makkah. Mengapa semua perang ini dilakukan? Ia dilakukan dalam rangka membela dan melindungi peradaban Islam yang tumbuh di Madinah. Demi membela Negara Islam, ajaran Islam menyerukan Jihad Fi Sabilillah. Siapa yang tidak ikut Jihad, padahal dia memenuhi syarat dan tidak ada halangan, dia masuk barisan orang-orang munafik. Kecuali siapa yang diampuni Allah dari kemunafikan. Kalau ada musuh yang menyerang Negara Islam, meskipun musuh itu ada yang beragama Islam, halal untuk diperangi.

9.     Nabi Saw menjelaskan, ada tiga golongan manusia Muslim yang dihalalkan darahnya, yaitu: (1) Orang yang sudah menikah, lalu melakukan zina; (2) Seseorang yang membunuh seorang Muslim, dia boleh dibunuh sebagai hukuman qishash; (3) Seseorang yang murtad dari Islam dan menyempal dari Jamaah Muslimin. (HR. Bukhari-Muslim dari Abdullah bin Mas’ud Ra). Menyempal dari Jamaah maksudnya, keluar dari ketaatan terhadap pemimpin Islam yang memimpin dengan Syariat Islam.

10.  Dalam peristiwa Fathu Makkah ada pelajaran besar yang tidak mau dilihat oleh orang-orang sesat (sekalipun mereka mengklaim sebagai “Ahlus Sunnah”). Semula, Makkah adalah kota yang berlandaskan sistem jahiliyyah. Dalam peristiwa Fathu Makkah, kota ini jatuh ke tangan kaum Muslimin di bawah pimpinan Nabi Saw. Sejak dikuasai kaum Muslimin, segera ditegakkan sistem Islam di dalamnya. Buktinya, sejak saat itu Makkah dibersihkan dari berhala-berhala dan simbol kemusyrikan. Lalu Makkah ditetapkan sebagai Kota Suci, dimana orang-orang kafir dilarang masuk ke dalamnya. Ini menjadi contoh nyata, bahwa Nabi Saw berjuang menerapkan dan menegakkan peradaban Islam. (Jadi bukan peradaban kaum Murji’ah yang mentoleransi sistem jahiliyyah di muka bumi).

11.     Setelah kedudukan Islam kokoh di Madinah, Nabi Saw menyampaikan surat dakwah kepada raja-raja di Jazirah Arab dan sekitarnya. Surat ditujukan kepada Raja Najasyi di Ethiopia, Raja Muqauqis di Mesir, Kisra di Persia, Hiraklius di Romawi (Konstantinopel), Al Mundzir bin Sawa (Amir Bahrain), Haudzah bin Ali (Amir Yamamah), Al Harits Al Ghassany (Amir Damaskus), Jaifar dan Abdu (Raja Oman). Mereka diajak masuk Islam. Surat-surat ini merupakan bukti luar biasa yang menunjukkan bahwa Islam tidak akan membiarkan peradaban manusia berada dalam jahiliyyah, tetapi diajaknya masuk ke dalam salamah (keselamatan dan damai). Surat ini sekaligus menjadi bukti bahwa ajaran Islam bukan hanya untuk Jazirah Arab, tetapi untuk seluruh peradaban manusia di bumi.

12.   Dinasti Umayyah yang mulai berdiri di Damaskus, dengan perintisnya Abu Sufyan Ra, meskipun ia adalah sistem dinasti yang tidak sesuai dengan sistem Khalifah yang dicontohkan oleh Khulafaur Rasyidin, tetapi mereka tetap menerapkan sistem Islam, yang berdasarkan Kitabullah dan As Sunnah. Perkecualian pada sistem dinasti yang sebenarnya tidak pernah diajarkan oleh Islam.

Dalil-dalil ini sebenarnya banyak, tetapi cukup dijelaskan sampai disini saja. Apa yang diutarakan disini sudah menjawab dalil-dalil fundamental yang membenarkan konsep Negara Islam. Intinya, Negara Islam adalah KONSEP ISLAMI yang diajarkan dalam Kitabullah dan Sunnah, serta dicontohkan oleh Nabi Saw, para Khulafaur Rasyidin Ra, serta imam-imam kaum Muslimin selama ribuan tahun. Tidak ada yang menentang sistem Islami ini, selain mereka akan berhadapan dengan sabda Nabi Saw, “Wa iyyakum wa muhdatsatil umur, fa inna kulla bid’atin dhalalah,” (berhati-hatilah kalian dari urusan-urusan yang diada-adakan, karena setiap bid’ah yang diada-adakah itu adalah sesat).


PENJELASAN IBNU KATSIR 

Ada sebuah ayat Al Qur’an yang maknanya sangat jelas, bahwa setiap insane harus mentaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka harus tunduk di bawah tuntunan Al Qur’an dan As Sunnah. Disebutkan dalam Al Qur’an, “Katakanlah: Taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka jika kalian berpaling, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali Imran: 32).

 
Atas ayat ini Ibnu Katsir rahimahullah memberi penjelasan sebagai berikut:

“Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan kepada setiap orang dari kalangan khusus atau umum, lalu disebutkan ayat di atas. Kalimat ‘Jika kalian berpaling,’ maksudnya: jika kalian menyelisihi ajarannya (ajaran Nabi Saw). Kalimat ‘Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir,’ menunjukkan bahwa siapa yang menyelisihi jalan Nabi, dia kufur, dan Allah tidak suka kepada orang yang disifati dengan hal itu (yaitu kekafiran), meskipun dia mendakwahkan diri dan mengklaim mencintai Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya; sampai mereka ikut Nabi yang ummi, penutup para Rasul, dan utusan Allah kepada golongan jin dan manusia; yang mana jika ada para Nabi, bahkan para Rasul, bahkan Rasul Ulul Amri, mereka ada di jaman Nabi Saw, maka tidak ada kelonggaran atas mereka, selain mengikuti beliau, masuk ke dalam ketaatan kepadanya, dan ikut Syariat-nya.” (Tafsir Al Qur’anul Azhim, Ibnu Katsir, jilid II, hal. 25).


Penjelasan ini sangat jelas, bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya meliputi semua kalangan manusia. Jangankan manusia biasa. Bahkan andai para Nabi dan Rasul hidup di jaman Nabi Muhammad Saw, maka mereka pun harus taat kepada ajaran beliau.


Lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengaku Islami, lalu menghalalkan adanya sistem kehidupan lain, selain yang diajarkan dalam Al Qur’an? Baik itu sistem berdasarkan ajaran Barat kapitalis, Timur komunis, Persemakmuran Inggris, Zionisme Yahudi, nasionalisme, tradisionalisme, primordialisme (kesukuan), dan lain-lain? Apakah mereka diberi keluasan untuk mengambil sistem non Islam, sementara para Nabi dan Rasul tidak diberi keluasan mengambil selain ajaran Nabi Saw? Apakah mereka lebih mulia dari Nabi dan Rasul As?

Mengikuti ajaran non Islam yang tidak diajarkan oleh Nabi, dalam Al Qur’an disebut sebagai: Ittiba’ khuthuwatis syaithan (mengikuti jalan-jalan syaitan). Tentu saja, semua itu haram, dilarang, dan tidak boleh diikuti. Mengikuti jalan syaitan sama saja dengan menjerumuskan diri ke dalam kesusahan dunia-Akhirat. Na’udzubillah min dzalik.


PHOBIA NEGARA ISLAM

Di kalangan kaum Muslimin banyak yang merasa phobia (takut) dengan Negara Islam. Jangankan untuk meyakini atau mendakwahkan, mendengar namanya saja mereka takut. Ketakutan mereka kepada Negara Islam melebihi takutnya kepada Yahudi dan Nashrani. Bahkan bisa jadi, mereka lebih takut kepada Negara Islam daripada kepada PKI. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Pikiran dan hati mereka telah sedemikian dalam terjerumus ke dalam perangkap-perangkap ajaran non Islam, sehingga untuk meyakini sesuatu yang benar, mereka begitu ketakutan. Di jaman Orde Lama, mereka ketakutan mendengar istilah DI/TII. Di jaman Reformasi, mereka ketakutan mendengar istilah “perang melawan teroris”. Nanti di jaman yang baru lagi (jika ada demikian) pasti akan muncul lagi bentuk ketakutan yang lain. Akhirnya, sepanjang masa mereka tidak pernah meyakini kebenaran Negara Islam. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Banyak orang berprasangka buruk kepada konsep Negara Islam, selain karena memang hatinya mendengki, juga karena pikirannya kacau oleh penyesatan-penyesatan yang canggih, juga karena mereka terjerumus perangkap-perangkap syubhat yang disebarkan oleh kaum “alim-ulama”. Para ulama biasanya disebut Wara-tsatul Anbiya’ (pewaris Nabi). Tapi ini berbeda, mereka malah anti dan memusuhi warisan Hadharah Nabawiyyah (peradaban kenabian).


Ulil Abshar Abdala pernah mengatakan bahwa, “Negara sekuler itu bisa mewadahi energi kesalehan sekaligus energi kemaksiatan.” Ide yang dilontarkan Ulil ini banyak dianut kaum Muslimin di Indonesia saat ini. Mereka takut dengan Negara Islam, karena takut kebebasan mereka untuk melakukan maksiyat akan dipasung atau dipenjara. Katanya, “Negara Islam itu terlalu banyak larangan. Ini tak boleh, itu tak boleh. Hidup jadi tak enak, serba dilarang. Lebih baik hidup seperti bangsa Amerika, hati bisa puas dan merdeka berbuat maksiyat.”

Sebenarnya, semua jenis perbuatan amoral (maksiyat) itu merugikan manusia. “Perbuatan dosa itu berbiaya tinggi,” demikian prinsipnya. Semua bangsa yang senang berbuat maksiyat, mereka bisa jatuh dalam kemiskinan, seperti negara-negara di Amerika Selatan. Begitu pula, perbuatan maksiyat bisa menghancurkan struktur sosial. Di Eropa, banyak negara mengeluh karena generasi mudanya enggan menikah, sehingga pertumbuhan penduduk minus. Anak-anak muda Eropa sudah senang dengan seks bebas, mereka enggan berkeluarga. Kalau berkeluarga, cepat sekali bercerai. Lagi pula, amoralitas itu menghancurkan produktifitas. Buktinya, klub-klub bola di Inggris sering kewalahan karena perbuatan selingkuh pemain-pemainnya. Bahkan pelatih Timnas Inggris saat ini, dia melarang para pemain Inggris minum minuman keras selama musim Piala Dunia. Hampir tidak ada satu pun negara waras yang membenarkan minuman keras, pornografi, pelacuran, homoseks, kriminalitas, pembunuhan, dan sejenisnya. Kalaupun ada negara yang sangat permissif paling Belanda, Jepang, atau Amerika. Bahkan di Amerika sendiri, sopir yang kedapatan mabuk alkohol bisa mendapat masalah besar. Begitu pula, kalau ada seseorang terbukti membunuh orang lain, dia bisa dikenai hukuman mati. Bahkan pelecehan seksual, misalnya hanya melontarkan suara “suit-suit” kepada seorang wanita, lalu dia tidak suka; hal itu bisa diadukan ke pengadilan.

Ada 7 ATURAN yang sering ditakuti oleh manusia, ketika mereka berbicara tentang Syariat Islam. Pertama, kewajiban Shalat Lima Waktu, bagi yang sudah dewasa. Kedua, kewajiban menutup aurat, khususnya kewajiban memakai jilbab bagi kaum wanita dewasa. Ketiga, larangan makan makanan haram seperti babi, bangkai, darah mengalir, ular, tikus, dll. Keempat, larangan mengambil harta orang lain secara haram, baik melalui mencuri, menipu, merampok, korupsi, praktik rentenir, dll. Kelima, larangan melakukan hubungan seks di luar nikah, baik melacur, selingkuh, seks bebas, perkosaan, homoseks, dll. Keenam, larangan membunuh jiwa manusia yang haram dibunuh, atau menyakiti fisik orang lain tanpa hak, atau menyebarkan fitnah yang tidak benar, dll. Ketujuh, larangan berbuat kekafiran, seperti murtad, menyebarkan paham kekafiran, melakukan sihir, menyebarkan perdukunan, dll.

Kalau mau jujur, HANYA 7 ATURAN itu yang menjadi sumber ketakutan manusia terhadap Syariat Islam. Artinya, jika mereka sanggup mentaati 7 PERKARA itu dengan baik, jalan untuk hidup damai di bawah naungan Islam, terbentang luas di hadapannya.

Shalat 5 Waktu adalah sumber hidupnya jiwa manusia, sebab Shalat itu menghubungkan jiwa manusia dengan Rabb-nya. Kalau tidak mengerjakan Shalat, seseorang seperti “layang-layang putus” di langit. Mereka hidup terombang-ambing dalam segala bentuk kerisauan. Jadi ini menyangkut kestabilan spiritual manusia. Mungkinkah ada peradaban yang stabil, jika jiwa-jiwa manusianya penuh masalah dan gelisah? Kewajiban memakai jilbab bagi wanita adalah demi memelihara kehormatan mereka, dan agar tidak menyebarkan praktik amoralitas di tengah masyarakat. Kemana saja seorang wanita bergerak, dia membawa potensi godaan bagi syahwat laki-laki. Aturan jilbab bermanfaat menjaga kebaikan wanita, menjaga mata kaum laki-laki, dan menyelamatkan moralitas masyarakat secara luas.

Larangan makan makanan haram, terlepas dari segala hasil penelitian modern, hal ini tidak sulit ditaati. Jumlah makanan yang haram dimakan jauh lebih sedikit ketimbang makanan yang halal di makan. Prinsipnya, “Semua makanan halal, kecuali yang jelas-jelas diharamkan.” Coba, kalau aturan ini dibalik, “Semua makanan haram, kecuali yang jelas-jelas dihalalkan,” kira-kira akan bagaimana sikap manusia terhadap Syariat Islam?
Larangan mengambil harta orang lain. Ini sangat mudah dipahami. Logikanya, “Jika Anda tidak suka harta Anda diambil orang lain, maka jangan mengambil harta orang secara bathil.” Tentang masalah seks bebas, semua itu akibatnya sangat buruk bagi masyarakat. Seks bebas menyebabkan aborsi, perceraian, wanita melahirkan tanpa ayah, rusaknya garis keturunan, konflik, dll. Adapun tentang pembunuhan dan kekerasan, ya di hukum apapun, perbuatan membunuh atau menganiaya orang lain jelas-jelas dilarang.

Sedangkan tentang larangan menjadi kafir, murtad, atau melakukan hal-hal yang bisa membawa kepada kekafiran, hal ini menjadi hak asasi setiap agama yang ingin mempertahankan dirinya. Di negara sekuler seperti Amerika, kita tidak bisa melarang orang disana menjadi sekuler. Kalau kita larang, malah kita dianggap melanggar hukum. Di Turki, kalau ada orang yang menghina nilai-nilai sekularisme, dia bisa dipenjara. Begitu pula di China, kalau ada yang melarang penyebaran ideologi marxis-atheis, mereka bisa dituduh sebagai musuh negara.

Secara umum, hanya 7 ATURAN itu yang menjadi sumber ketakutan manusia jaman sekarang terhadap pemberlakuan sistem Islam. Mereka terlalu banyak berprasangka buruk, sambil tidak mau melakukan kajian secara serius. Pikiran mereka banyak menyeleweng akibat berbagai upaya penyesatan yang tak henti-henti, baik oleh media-media massa sekuler, pemikir-pemikir berkedok “cendekiawan muslim”, juga karena banyaknya syubhat yang disebarkan oleh orang-orang sesat berkedok “ahli ilmu”. Di sisi lain, kaum hedonis juga tak henti-hentinya meneriakkan semboyan kebebasan dan penghambaan hawa nafsu.

Demi Allah, Negara Islam itu merupakan jalan yang mudah, realistik, dan sangat manusiawi. Kalaupun di otak kita tumbuh banyak ketakutan terhadap sistem ini, hal itu lebih karena kita tidak tahu saja. Dan satu lagi, kita tidak pernah mengalami indahnya kehidupan di bawah sistem Islam. Jadi, ini adalah ketakutan yang dibuat-buat, merupakan was-was bisikan syaitan, serta gejala halusinasi dari masyarakat yang belum pernah mengalami sesuatu.

Bayangkan saja, kalau masyarakat Indonesia mau patuh dalam 7 ATURAN itu, seketika itu mereka telah mendapatkan Negara Islam, Sistem Islam, Peradaban Islam. Selanjutnya, tinggal kita maksimalkan berbagai kemudahan dan kebebasan yang kita peroleh dari kemurahan ajaran agama ini. Masya Allah, kalau manusia tahu hakikat persoalan ini, sungguh mereka akan MALU BESAR untuk bersikap sinis atau anti Negara Islam. Hanya para syaitan saja yang akan menolak diberi kebaikan, menolak diberi rizki, menolak dipayungi barakah, menolak diberi kasih-sayang, serta menolak perlindungan yang kuat.


KALAM AKHIR

Dari sekian panjang pembahasan ini, kita mendapati kesimpulan, bahwa konsep Negara Islam adalah konsep yang benar. Ia bukan saja merupakan konsep warisan Salafus Shalih, bahkan ia adalah KONSEP NABAWI yang dibimbing oleh Wahyu dari langit. Nabi Saw dan para Khulafaur Rasyidin Ra menjadi perintis pelaksanaan sistem Negara Islam ini.

Lalu bagaimana hukum melaksanakan Negara Islam ini dalam kehidupan kaum Muslimin? Tidak diragukan lagi, hukumnya adalah wajib bagi kaum Muslimin yang mampu menunaikannya. Adapun bagi Ummat Islam yang merasa dirinya lemah atau tidak mampu, mereka harus tetap meyakini kebenaran konsep Negara Islam ini, dan tidak silau oleh sistem apapun selainnya. Bahkan hendaklah setiap Muslim meyakini kebenaran sistem Negara Islam ini dalam hidupnya, terlepas apakah dalam hidupnya diterapkan sistem Islami atau tidak.


Sebuah nasehat besar bagi setiap Muslim: “Wa laa tamutunna illa wa antum muslimin” (janganlah kalian mati,kecuali dalam keadaan sebagai Muslim). Ayat ini juga bermakna, janganlah kita mati dalam keadaan tidak meyakini kebenaran sistem Negara Islam dan mengagumi sistem non Islam. Siapa yang mati dalam keadaan mendurhakai sistem Negara Islam, dia mati dalam jahiliyyah. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Namun untuk merealisasikan sistem Negara Islam ini, saya menyarankan agar kita menempuh cara-cara damai. Kita bisa berdakwah, membina Ummat, menyampaikan bayan, berdiskusi secara hikmah, dan sebagainya. Hindari cara-cara kekerasan! Sebab kondisi Ummat Islam ini lemah di berbagai sisinya. Di tingkat lokal maupun internasional, keadaan kita terjepit. Jika ada elemen-elemen Ummat Islam yang menempuh cara kekerasan, hal itu akan mengundang GELOMBANG REAKSI berat. Media-media massa akan menghujani kita dengan berbagai fitnah yang sangat menyakitkan hati. Kita tahu, banyak media yang eksistensinya memang untuk menghalangi gerakan pembangunan Islam. Mereka tidak akan ragu untuk menjadikan kasus-kasus kekerasan itu sebagai senjata untuk merusak citra perjuangan kaum Muslimin.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Ummat, bagi generasi muda Muslim, bagi bangsa Indonesia; juga bermanfaat bagiku, ayah-ibuku, serta keluargaku seluruhnya. Semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang mencintai Islam, mencintai peradaban Islam, mencintai sistem Islam, sekaligus mencintai Negara Islam. Semoga Allah menjadikan kita sebagai Muslim yang sepenuhnya, zhahir dan bathin, dunia Akhirat. Semoga Allah menolong kita atas kesulitan dan kesempitan yang kita alami, dalam meniti jalan Islam. Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Tulisan ini secara khusus saya dedikasikan untuk KH. Firdaus Ahmad Naqib, yang memiliki obsesi ingin wafat di bawah naungan sebuah Negara Islam. Juga saya dedikasikan untuk Ki Bagoes Hadikoesoemo rahimahullah, seorang sesepuh Muhammadiyyah, yang sepanjang hayatnya sangat gigih membela Syariat Islam di Indonesia. Juga saya dedikasikan kepada setiap Muslim yang mendambakan Daulah Islamiyyah di negeri Nusantara ini. Barakallah fikum jami’an.

Wallahu A’lam bisshawaab.
At Thalibu Rahmatar Rabbi
(Waskito Ibnu Boeang). 


sumber
http://abisyakir.wordpress.com
»»  SELENGKAPNYA...

”Fa-aina Tadzhabun” PKS? by Herman Ibrahim

”Fa-aina Tadzhabun” PKS?

Demokrasi dianggap sebagai sistem yang terbaik dibandingkan dengan berbagai sistem pemerintahan lain. Bahkan ada fatwa ulama besar yang merestui kelompok Islam masuk ke dalam sistem tersebut. Meski dengan embel-embel "darurat" masuknya Islam dalam sistem demokrasi seakan-akan membenarkan sistem itu di atas sistem Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Konsep musyawarah lantas dijadikan rujukan bahwa ajaran demokrasi tidak bertentangan dengan Islam. Padahal ada tokoh ulama yang menolak demokrasi, seperti Syaikh Abu Muhammad 'Ashim Al Maqdisiy, Muhammad Abu Nashr yang mensinyalir paling tidak ada 13 hal kesyirikan demokrasi.

Salah satu ciri kemusyrikan demokrasi adalah seakan-akan rakyat atau suara mayoritas mereka yang diwakili di parlemen memiliki hak untuk menentukan hukum dan perundang-undangan di luar aturan hidup dan hukum Allah yang ditetapkan dalam Al Quran dan As Sunnah.

Sangat penting untuk dikatakan bahwa keterlibatan Islam dalam partai politik harus tetap memperjuangkan tegaknya syariat. Itulah sebabnya banyak orang menaruh harapan besar tatkala kelompok tarbiyah (Ikhwanul Muslimin Indonesia) membentuk partai politik yang bernama Partai Keadilan. Harapan itu tidak mengada-ada karena obrolan pertama penulis dengan Nur Mahmudi, Presiden PK yang pertama, tampak sekali keinginan untuk menegakkan syariat Islam. Tema-tema kampanye PK-pun mengangkat isu tathbiqussyariah dan keadilan dalam segala aspek kehidupan. Disertai dengan komitmen yang kuat dari para pendukungnya kita saksikan PK tampil di Pemilu 1999 dengan raihan suara yang cukup banyak walaupun tidak mencapai electoral threshold.
 
Pada Pemilu 2004, PK yang berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) meraih 45 kursi di parlemen. Ini merupakan lonjakan yang sangat dahsyat karena pada Pemilu 1999 PK hanya mendapat tujuh kursi. Kemenangan PKS membangkitkan harapan bahwa gema tentang tegaknya syariat Islam melalui produk perundang-undangan akan semakin menggaung. 

tatkala terjadi perebutan posisi ketua MPR, DPR, komisi-komisi dan lain-lain, PKS memperoleh posisi terhormat dengan terpilihnya Hidayat Nur Wahid sebagai ketua MPR. Beberapa menit setelah pelantikan, tiba-tiba harapan dan cita-cita yang sudah lama terobsesi tentang tegaknya syariat Islam menjadi buyar tatkala Hidayat Nur Wahid secara eksplisit mengatakan tidak ada niat untuk menjadikan syariat Islam sebagai dasar negara.

Tentu saja, penulis melakukan klarifikasi. Beberapa teman yang memiliki posisi penting di PKS pusat maupun daerah mengatakan bahwa apa yang dikatakan Hidayat Nur Wahid tidak bertentangan dengan misi partai. PKS tetap bercita-cita menegakkan syariat Islam dengan catatan partai ini harus meraih suara.

Bagi PKS kemenangan pada pemilu dengan raihan suara terbanyak adalah persyaratan utama karena dalam sistem demokrasi sebuah kemenangan akan ditentukan oleh jumlah suara. Oleh karena itu pernyataan Hidayat wajar dan taktis karena bukankah PKS belum memperoleh kursi mayoritas di parlemen. Suatu hal yang prematur jika Hidayat mengeluarkan pernyataan tentang penegakan syariat Islam di saat partai ini tidak menjadi mayoritas. Namun beberapa kelompok Islam ideologis menilai PKS telah keluar dari janji dan tema-tema kampanyenya.

Logika yang dibangun PKS tampaknya sangat rasional. Demokrasi tanpa raihan suara terbanyak hanyalah sebuah kerja bakti. Dia tidak menentukan dan hanya menjadi kelompok pengekor dari sistem kekuasaan yang dibangun oleh partai mayoritas. Maka PKS harus menang pemilu terlebih dahulu, baru menjalankan cita-cita yang terkandung dalam AD/ART-nya. Inilah hal yang berbeda untuk tidak dikatakan bertentangan dengan kelompok Islam yang memilih berjuang di luar sistem. Tetapi logika demokrasi tampaknya akan tetap menjadi pilihan sebuah partai politik tidak terkecuali PKS.

Pertanyaannya adalah apakah benar PKS akan memenangkan pemilu 2009? Apakah dengan demikian PKS akan menjadi kekuatan Islam dominan penentu tegaknya syariat Islam? Apakah PKS akan berhasil meraih suara dari kalangan nasionalis yang saat ini berada dalam tubuh Golkar dan PDIP? Bukankah jika ingin menjadi pemenang pemilu haruslah menarik para pemilih yang selama ini berada di kelompok mayoritas? Dan apakah PKS akan menjadi partai mayoritas tunggal? Bukankah hanya partai mayoritas tunggal yang bisa menentukan arah negeri ini mau dibawa seperti halnya Golkar di era Orba?

Dalam pandangan penulis cita-cita PKS seperti itu hanyalah ilusi. Beberapa gejala menunjukkan bahwa PKS tidak pada posisi yang akan memenangkan Pemilu 2009 bahkan pemilu-pemilu selanjutnya, karena dalam beberapa segi PKS tidak menunjukkan karakter yang istimewa dibanding dengan partai-partai lainnya.

Meskipun kader PKS relatif lebih bersih, itu tidak cukup untuk menjadikan PKS sebagai leading party. PKS sadar benar bahwa kekuasaan uang menjadi faktor yang menentukan kemenangan dalam demokrasi sekuler. PKS juga tahu bahwa uang itu menumpuk di birokrasi pemerintahan, maka sebagaimana partai-partai lainnya PKS-pun terlibat secara intens dalam perebutan kekuasaan di pusat maupun di daerah. PKS melakukan tawar-menawar politik dengan penguasa dan seperti partai lainnya berupaya merebut jabatan gubernur, bupati dan walikota dalam setiap pilkada di seluruh Indonesia.

Pragmatisme PKS sangat tampak pada proses Pilpres. Konon beberapa kader PKS pada tingkat sekjen dan Dewan Syuro tanpa rasa sungkan dan risih menemui salah seorang calon presiden, dalam hal ini perlu tabayyun apakah mereka sengaja mendatangi atau diundang. Meski perlu pembuktian tetapi beberapa sumber menyebutkan telah terjadi kesepakatan dukung mendukung dengan calon presiden tersebut, dan kesepakatan itu berarti sebuah transaksi yang bermuara di angka. Tentu kelihatannya hal itu seperti sesuatu yang wajar, tetapi untuk sebuah partai yang berbasiskan Islam transaksi semacam itu -dalam pandangan penulis- tidaklah pantas untuk dilakukan. Fakta selanjutnya menunjukkan bahwa walaupun konon pula PKS telah menerima dana namun dukungannya ternyata dialihkan kepada calon presiden yang lain. Dengan cara ini PKS telah melakukan tindakan wanprestasi politik kepada seseorang karena di satu sisi dia memperoleh sejumlah dana, tapi di sisi lain tidak ingin kehilangan citranya untuk tetap mendukung calon presiden dari kalangan Islam.

Pada pilpres putaran kedua PKS tidak melakukan langkah netral, kendati calon yang didukungnya kalah dalam pemilu. Tidak seperti halnya PPP dan PAN yang membebaskan pilihan kepada konstituennya, PKS melakukan kontrak politik dengan pasangan SBY-JK. Atas dukungannya itulah maka PKS memperoleh posisi di kabinet dengan tiga menteri, antara lain menteri pertanian, menteri Pemuda dan Olah raga dan menteri Perumahan Rakyat. Gejala ini menunjukkan bahwa PKS sebenarnya tidak berbeda dengan partai-partai lainnya.

Di dalam proses pilkada, PKS melakukan gerakan all out untuk memperoleh kekuasaan di daerah. Tekanannya kepada SBY untuk memenangkan Nurmahmudi di tingkat MA sangat tampak. Meski tuntutan tersebut memperoleh dukungan masyarakat, tetapi erangan elite PKS sangat berlebihan di media masa. Ambisi seorang bekas menteri untuk tetap berkuasa kendatipun di tingkat kota, tampak sekali dalam perjuangan PKS yang sekarang ini tengah memperjuangkan calon-calonnya untuk memenangkan pilkada di berbagai daerah. Yang mengherankan adalah sebagaimana halnya partai-partai lain, pragmatisme politik dipertontonkan oleh PKS secara telanjang. PKS bersedia berkoalisi dengan partai manapun meskipun secara ideologis sangat tidak kimiawi. Hal ini ditunjukkan tatkala PKS mendukung calon bupati Cianjur dan bersedia berkoalisi dengan partai Demokrat. Yang mengherankan, sebagai partai Islam PKS tidak mendukung konsep Gerbang Marhamah yang dipandang sebagai upaya penegakan syariat Islam di kabupaten tersebut.

Fakta sejarah juga menampakkan bahwa apa yang diangan-angankan oleh PKS untuk memperjuangkan Islam lewat demokrasi dan parlemen adalah sebuah absurditas belaka. Demokrasi yang dibelakangnya bersembunyi ideologi neoliberal sebenarnya tidak akan pernah mengizinkan Islam untuk memenangkan pemilu di negeri mana pun. Pada Pemilu 1955 di Indonesia sebuah penyusupan ke dalam tubuh Masyumi telah membuat NU keluar dan Islam kalah oleh PNI. Di Aljazair, partai Islam FIS memenangkan pemilu dengan raihan suara 83%, tetapi dianulir oleh dan dikalahkan pada pemilu berikutnya atas pesanan Amerika. Partai Islam Rafah pimpinan Necmetin Erbakan di Turki yang memenangi pemilu, bahkan diintervensi langsung oleh CIA untuk dibatalkan dan kemudian dibubarkan. Tidak ada sejarahnya Islam menang de1ngan mengikuti proses demokrasi.

Koalisi, aliansi, kolaborasi atau apa pun namanya bentuk dari penggabungan Islam dengan non-Islam hasil akhirnya adalah kemenangan bagi pihak non-Islam. Tengok saja sejarah gentleman agreement di tubuh PPKI yang telah mensyahkan tujuh kata dalam Mukadimah UUD 45 bisa hapus begitu saja tatkala kelompok minoritas dari Indonesia Bagian Timur melakukan penolakan. Semua produk perundang-undangan yang dihasilkan oleh sebuah parlemen yang mayoritas beragama Islam pun bisa dipastikan tidak akan berwarna Islam karena alasan toleransi dan heterogenitas. Maka gejala PKS yang bersedia berkolaborasi dengan partai mana pun tanpa didasari ideologi Islam menunjukkan bahwa PKS telah menyimpang dari cita-cita awalnya. Maka pertanyaan sesuai dengan judul tulisan ini perlu diulang .... Mau ke mana PKS? Wallahu a'lam. 

Penulis, pengamat politik, purnawirawan TNI AD.
Sumber Koran:  PIKIRAN RAKYAT   tgl 16 Januari 2006
»»  SELENGKAPNYA...

Jumat, 02 Maret 2012

Wajah Asli Pendiri Negeri

Dr. Lambert Giebels, 66 tahun, penulis biografi Soekarno : "Soekarno, 1901-1950" dan "Soekarno, 1950-1970" yang keduanya dipersiapkan selama 5 tahun (1996-2001) hingga "Giebels sampai serasa hidup dan tinggal dengan Sukarno," kata Giebels kepada TEMPO. Banyak sekali masalah kontroversial dalam fase hidup Sukarno yang diungkapkan, misalnya soal Sukarno di masa Jepang. Giebels mengabdikan halaman yang cukup panjang untuk mengulas apakah Sukarno seorang kooperator atau kolaborator Jepang.

Beberapa hal yang cukup kontroversial diulas Giebels, diantaranya :

1. Soekarno tidak berperan dalam Soempah Pemoeda

Giebels merujuk Abu Hanifah yang menulis Dongeng dari Masa Revolusi (Tales of a Revolution). Dari dialah, Giebels kumpulkan sebagian besar informasi seputar Sumpah Pemuda.Menurut Hanifah, Sukarno hanyalah saksi mata pasif di pertemuan 28 Oktober 1928 yang kondang itu. Dari riset yang Giebels lakukan, tak ada informasi yang membantah hal tersebut, kecuali pernyataan dari Sukarno sendiri. Sukarno menyatakan bahwa dirinya berada di tengah-tengah panggung. Di sini tampak kepribadiannya yang narcissistic?.

 
2. Soekarno bertanggung jawab atas suksesnya program Romusha

Ada dua disertasi sejarawan Jepang yang mendasari analisis Giebels terhadap kasus romusha, yakni War and Peasants: the Japanese Administration in Java and Its Impact on the Peasantry 1942-1945 karya Shigeru Sato dan Mobilization and Control: a Study of Social Change in Rural Java 1942-1945 karya Aiko Kurasawa. Referensi lain adalah tulisan Tan Malaka tentang pengalamannya di Banten. 

Di tahun-tahun pertama penjajahan Jepang, rekrutmen romusha merupakan kebijakan rasional yang bertujuan memobilisasi jutaan penganggur untuk merehabilitasi dan membangun Pulau Jawa. Kebijakan ini tak banyak berbeda dengan rekrutmen tenaga kerja di berbagai negara Barat selama krisis ekonomi tahun 1930-an. Hatta pun setuju dengan gagasan ini. Sebab, saat menjadi mahasiswa di Rotterdam, Hatta pernah melihat kebijakan semacam ini diterapkan di Barat. Masa kerja paksa ini berlangsung selama 3 bulan saja. 

Pekerja romusha bekerja di wilayah masing-masing dan mendapatkan makanan secara cukup. Kondisi romusha ini berubah pada akhir 1943, ketika Tokyo memutuskan agar Jepang mengambil sikap bertahan dan mengamankan belahan Jepang dengan bantuan militer selama waktu tertentu. Pada titik itulah kerja paksa berubah menjadi perbudakan. Banyak dari mereka yang dikirim jauh dari kampung halaman selama lebih dari tiga bulan. 

Sukarno layak dipersalahkan. Dalam otobiografinya, ia memang menyalahkan diri sendiri karena mempropagandakan program rekrutmen romusha tersebut. Apakah Hatta juga bertanggung jawab soal romusha ini? Ya, Hatta, yang menjadi Ketua Badan Pembantu Prajurit Pekerja (BP3), pun mesti dipersalahkan. Begitu juga pemerintah setempat Indonesia (kebanyakan kalangan priayi) yang mengeruk untung atas setiap tenaga kerja pria yang mereka serahkan kepada tim rekrutmen seraya melindungi keluarga dan teman-teman mereka sendiri. Begitu juga pemuda yang dilatih oleh pihak militer yang mengejar orang-orang yang berpotensi jadi romusha sampai ke desa-desa. 

Di sisi lain, peran Sukarno dalam skandal romusha tampak dibesar-besarkan. Misalkan, ada sebuah foto yang begitu terkenal, Sukarno berpose sebagai romusha ideal. Giebels sarankan Anda berbicara dengan Rosihan Anwar tentang proses pembuatan foto ini di Bogor. Ia saksi mata peristiwa itu. Satu hal baru lagi yang Giebels temukan seputar skandal romusha adalah soal jumlah romusha yang meninggal dunia. Jumlah ini terlalu dibesar-besarkan. Hal ini merupakan kebijakan yang disengaja oleh pemerintah Indonesia di era 1950-an. Jumlah korban romusha merupakan argumen kuat untuk menuntut pampasan perang (war reparation) yang tinggi dari pemerintah Jepang


3. Menyetorkan ratusan jugun ianfu

Giebels tidak mengerti kenapa informasi ini begitu mengejutkan Anda (yg dimaksud wartawan TEMPO Seno Joko Suyono, Gita W. Laksmini, dan Leila S. Chudori). Sukarno menyebut hal ini kepada Cindy Adams. Anda mesti sadar bahwa ketika itu Sukarno hanyalah seorang pemimpin lokal, pemimpin setempat. Apabila ia memprotes, besar kemungkinan Sukarno akan langsung dilempar ke dalam hotel prodeo alias masuk bui. Giebels berpendapat bahwa Sukarno membuat keputusan yang terbaik yang bisa ia perbuat ketika itu. Sukarno melindungi para perempuan dari perilaku serdadu Jepang dan menyediakan kesempatan kerja kepada pekerja seks komersial profesional di Padang.

Sukarno melihat adanya kesempatan untuk memerdekakan Indonesia dari penjajahan Jepang ketika Imamura memimpin. Sukarno cukup realistis dalam hal ini. Sebelumnya, Jepang sudah memberikan kemerdekaan kepada Filipina dan Burma. Bulan September 1944, deklarasi Koiso menjanjikan kemerdekaan Indonesia. Lepas dari perasaan utang budi Sukarno kepada Jepang atas kesempatan tersebut, Sukarno memang menyukai Negara Jepang dan orang-orangnya. Jepang menjadi negara tujuan kegemarannya.

Sukarno bahkan menikahi dua hostesu Jepang (hostesu pertama bernama Sakiko, yang bunuh diri pada 30 September 1959 dengan mengiris nadinya di kediamannya di Menteng karena malu lantaran hostesu kedua, Dewi, menjadi istri favorit Sukarno)


4. Menolak 2 naskah proklamasi, dari para pemuda yang menolak campur tangan Jepang dan dari Sutan Sjahrir.

Sjahrir menulis satu teks proklamasi kemerdekaan. Giebelsngnya, teks tersebut lenyap entah ke mana. Ini juga menyulitkan riset Giebels. Sekalipun demikian, Soebadio Sastrosatomo almarhum sangat yakni bahwa teks ini pernah ada. Ia mengatakan kepada Giebels bahwa ketika Sjahrir sempat membuat beberapa perubahan, Sjahrir melakukan perbaikan di sana-sini menggunakan pena milik Soebadio yang lupa ia kembalikan. Soebadio ingat bahwa teks tersebut kira-kira terdiri atas 100 kata. Isinya sangat anti-Jepang dan tidak terlalu kritis terhadap kolonialisme Belanda. Sukarno dan Laksamana Maeda kemudian memilih teks versi Hatta. Tapi itu pun menghapus kalimat Hatta yang berbunyi "Kekuasaan direbut dari tangan para penguasa." Sukarno dan Hatta sadar bahwa kerja sama dengan pihak Jepang perlu untuk menghindari banjir darah. Tapi, di saat yang sama, hal tersebut menunjukkan Sjahrir memang tidak ingin bergabung dengan Sukarno-Hatta. Mereka akhirnya sepakat bekerja sama ketika di rumah Laksamana Maeda.

Giebels pun menyebutkan Sukarno sebenarnya menginginkan enam orang mahasiswa radikal agar ikut menandatangani teks proklamasi bersama dirinya dan Hatta. Tapi para pelajar tersebut menolak karena beranggapan teks proklamasi versi Hatta merupakan hasil kompromi Indonesia-Jepang. Sumber utama dari peristiwa tersebut adalah memoar dari Nishijima yang disusun oleh Anthony Reid dan Oki Akari (editor) dalam The Japanese Experience in Indonesia: Selected Memoirs 1942-1945, di mana terdapat pernyataan Nishijima kepada komite interograsi Belanda, yang Giebels temukan dalam arsip-arsip organisasi intelijen KNIL (Nefis) dan memoar Hatta


5. Melakukan negosiasi rahasia dengan Belanda

Sukarno, menurut Giebels, diam-diam mengatur kesepakatan dengan pemerintah Belanda melalui seorang agen rahasia bernama Bob Koke. Isi negosiasi adalah Sukarno tidak keberatan apabila pemerintah Belanda kembali menunjuk seorang gubernur jenderal untuk memerintah Indonesia, asalkan dia yang menjadi perdana menteri dan asalkan Indonesia bisa memperoleh 50 persen keuntungan perusahaan-perusahaan Belanda.

Nama Robert Koke pertama kali Giebels baca ketika Giebels menerjemahkan buku Revolusi dari Nusa Damai (Revolt in Paradise) karya K'tut Tantri (nama asli perempuan Amerika ini: Muriel Pearson) ke bahasa Belanda. Di awal 1930-an, Koke dan istrinya membuka hotel pertama di Kuta, Bali, bernama Hotel Kuta. Peran Koke sebagai agen itu Giebels dengar dari seorang Australia bernama Timothy Lindsey, yang berkawan dengan K'tut Tantri, semasa K'tut tinggal di Sydney, dan berharap bukunya yang best seller itu difilmkan. Timothy Lindsey menulis biografi tentang K'tut Tantri berjudul Romantika K'tut Tantri dan Indonesia (The Romance of K'tut Tantri and Indonesia), yang diterbitkan oleh Oxford University Press pada 1997. Dalam buku ini, Timothy Lindsey mengungkapkan peran Koke, di halaman 164-165, termasuk pertemuan Bob Koke dengan Sukarno di halaman 386. Giebels sendiri kurang tahu apakah Timothy Lindsey pernah bertemu dengan Bob Koke. Di buku ini, Koke menyatakan bahwa Mohammad Diah beserta keluarga berada bersama dirinya dalam pertemuannya dengan Sukarno sebagai penerjemah. Mungkin Pak Mohammad Diah dan istrinya bisa memberikan informasi lebih banyak tentang hal ini.

Sebagai sebuah disertasi, karya Timothy Lindsey itu Giebels anggap punya otoritas yang bisa diandalkan. Tapi, apabila pertemuan tersebut betul-betul terjadi dan isinya memang demikian, Giebels tidak sependapat dengan pernyataan bahwa Sukarno "menjual" Indonesia. Sebab, Sukarno sendiri adalah laki-laki yang gemar omong kosong. Kemungkinan negosiasi ini hanyalah gagasan sekilas Sukarno untuk mencari tahu bagaimana musuh bereaksi?.

6. Sangat gandrung teosofi

Konon, Sukarno orang yang sangat terpengaruh teosofi. Pemimpin-pemimpin pergerakan nasional Indonesia sendiri seperti tokoh Boedi Oetomo, H. Agoes Salim, Tjipto Mangoenkoesumo, adalah penganut teosofi. Sementara itu, di masa remajanya, Sukarno sering bergelut di perpustakaan teosofi karena sang ayah merupakan pengikut teosofi.

Informasi tentang latar belakang teosofis pada diri ayah Sukarno Giebels peroleh dari studi mendalam tentang gerakan teosofi di Indonesia dalam buku The Politics of Divine Wisdom 1875-1947 karya Herman de Tollenaere (Nijmegen, 1996). Giebels kira buku ini pun layak untuk diresensi TEMPO. Anda sebaiknya langsung menghubungi pengarangnya. Giebels yakin, ia pasti antusias dan segera mengirimkan contoh bukunya kepada Anda. Sesungguhnya Sukarno tidaklah terlalu taat menjalani kepercayaan yang diturunkan dari ayahnya. Sejak ia menetapkan Demokrasi Terpimpin pada 1959, Sukarno melarang Masyarakat Teosofi Indonesia (Theosophical Society of Indonesia) dengan menggunakan dekrit presiden (bersama dengan Freemasonry dan musik rock 'n' roll).

7. Kencan Marylin Monroe?

Dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Soekarno tak bisa menyembunyikan kesukaannya terhadap wanita. “Bukan suatu dosa atau tidak sopan kalau seseorang mengagumi seseorang perempuan cantik”, katanya 

“Aku hanya seorang pecinta kecantikan yang luar biasa”, kata Soekarno menangkis cemooh orang ketika dia menemui aktris Gina Lollobrigida waktu berkunjung ke Italia bulan Oktober 1964.

Pertemuan Marylin dan Soekarno bisa terwujud atas jasa Joshua Logan, sutradara film “Bus Stop” yang diperani oleh Marilyn. Waktu itu dia sedang sibuk syuting ketika Soekarno berada dan bertemu sekitar 200 pekerja film di sana. 

Malam hari Soekarno di Hollywood, Eric Allen Johnston, Presiden Motion Picture Association of America (MPAA) mengadakan pesta untuk menghormati Soekarno dan rombongannya di the Beverly Hills Hotel, Hollywood. Sebenarnya Marilyn tak dijadualkan datang ke pesta itu apalagi diundang. Tetapi saat syuitng film “Bus Stop” dia diajak Joshua Logan. “Saya ingin kau menemui sahabat saya nanti malam”, bujuk Logan kepada Marilyn. Tanpa ragu Marylin mengiyakan permintaan Logan. Padahal esok harinya dia akan berulang tahun ke 30 dan harus terbang malam itu juga ke New York untuk suatu acara.  

Akhirnya Marilyn datang juga ke pesta yang khusus diadakan untuk menghormati Soekarno itu. Dia mengenakan gaun gelap berleher panjang. Seketika kehadirannya membuat atmosfir pesta lebih hidup. Bahkan beberapa aktor ternama sudah hadir terlebih dahulu, termasuk Gregory Peck, George Murphy (kelak menjadi senator) dan Ronald Reagan (25 tahun kemudian jadi presiden AS). 

Kehadiran Marilyn benar-benar memberi oksigen dalam pesta itu, serta mencuri perhatian hampir semua orang. Soekarno segera menghampiri saat mengetahui kedatangannya. Mereka bertemu dalam suasana akrab hampir selama 45 menit. Layaknya seperti dua sahabat yang lama yang tak bertemu. Momen itu tak disia-siakan oleh para fotografer Amerika dan Indonesia.

Marilyn dengan basa-basi mengatakan bahwa dia menyesal tak diundang ke pesta itu. Namun Soekarno tak peduli dia diundang atau tidak, asalkan sudah bertemu dengannya. “Tujuan saya datang ke Amerika antara lain untuk menemuinya (Marilyn)”, kata Soekarno, sedikit diplomatis. 

Pertemuan Marilyn dengan Soekarno meninggalkan beberapa kisah menarik yang berkembang melampaui batas-batas fakta sebenarnya. Misalnya, dalam buku Goddess The Secret Life of Marilyn Monroe, yang ditulis Anthony Summers. Dalam buku itu ada bagian yang menceritakan tentang affair kedua lagenda itu, yang menurut saya sangat sulit dikonfirmasikan apalagi untuk dibenarkan. 

Misalnya saja pengakuan sutradara Joseph Logan dalam buku itu. “Saya pikir mereka berdua melakukan pertemuan lanjutan setelah pesta itu”, kenang Logan yang memperkenalkan Marilyn kepada Soekarno.

*Sekedar melihat sisi lain Proklamator RI di bulan Agustus 2010 ini
SOURCE: www.suarabawahtanah.co.cc
»»  SELENGKAPNYA...